Kalau beda ibu tiri ma ibu
kandung-kan udah biasa terdengar dan bahkan sudah banyak film-film yg
mengambil tema dengan judul tersebut, selalu di ibaratkan kalau ibu tiri
itu perumpamaan dari seorang iblis dan ibu kandung ialah perumpamaan
dari seorang malaikat. Tapi kalau beda antara ibu tiri dengan ibu asuh
pastinya banyak yang belum mengetahuinya dan bahkan belum sempet
terpikirkan walau sebatas angan-angan. Untuk itulah, mungkin cerita dari
negeri entah-berantah di bawah ini bisa sedkit menjelaskan perbedaan
antara kedua publik figur tersebut.
Sebenarnya ini cerita yg cukup menarik
bagi saia karena terjadi di sebuah keluarga saia sendiri. Saia sendiri
adalah seorang anak yg di lahirkan dari seorang ibu yang sangat baik
hati dan manies sekali. Ibu saia adalah istri ketiga dari tiga istri
ayah saia. Ayah saia juga seorang ayah yg sangat baik pada semua
anak-anaknya dan sangat adil, ini terbukti dari segala apapun yg kami
inginkan, pasti akan dituruti, asalkan jgn minta pesawat tempur aja.
Ibu saia adalah orang yg sangat sulit
untuk marah, kami menganggu sedemikian rupapun ibu hanya mesam-mesem
aja. Ibu saia juga mempunyai seorang anak asuh yang sangat dia sayangi
dan saia tahu bahwa sayangnya dia kepada anak asuhnya sama seperti
sayangnya dia kepada kami.
Ilustrasi sebuah keluarga bahagia
Tapi setelah saia perhatikan,
ternyata ada hal yg paling tidak di sukai oleh ibu saia yaitu ibu sangat
tidak senang kepada anak-anak ayah dari istri-istri sebelumnya. Ini
terbukti dari wajah ibu ketika anak-anak ayah dari istri sebelumnya
datang kerumah ibu saia walau untuk sekedar silaturahmi. Wajah ibu yg
semula cantik dan manies, pasti berubah pucet dan kemerah-merahan plus
ada tanduk tumbuh di kepalanya.
Saya terkadang heran dengan perubahan
ibu saia kalau sudah bertemu anak-anak tirinya, padahal kami saja tidak
pernah mempersoalkan status kami yg satu ayah tapi beda ibu, selama ini
kami jalani dengan tanpa beban apapun dan bahkan selalu tolong-menolong.
Pernah saia mencoba untuk bertanya langsung kepada ibu saia dan dengan
tanduk yang masih menempel dikepala, ibu saia menjawab “CEREWET”, tanpa
basa-basi saia langsung kabur dan tidak pernah mau lagi bertanya ke ibu
tentang persoalan itu lagi.
Sampai saat ini pun ibu masih tetep
dengan pendiriannya dan tak pernah mau akrab dengan anak-anak tirinya.
Ketika saia pulang sebentar ke kampung halaman untuk mengantar ibu saia
dan ayah berangkat ke Arab Saudi karena mereka akan menunaikan ibadah
rukun Islam yang kelima (haji), semua anak-anak kandungnya termasuk anak
asuhnya diwajibkan untuk pulang. Adek perempuan saia yg kebetulan
sekolah di luar kota juga di wajibkan pulang, begitupun juga saia. Tapi
ibu langsung berubah risau ketika ayah juga mengharuskan anak-anak dari
istri terdahulunya untuk juga ikut berkumpul bersama sebelum
keberangkatan mereka.
Masih ada lagi, ketika anak asuh ibu
hendak melangsungkan pernikahan, ibu saia dengan sigapnya mempersiapkan
segala persiapan dan kebutuhan untuk acara tersebut, bahkan saking
sibuknya sampai lupa bahwa anak kesayangannya yg berada diluar pulau
untuk bersekolah akan melangsungkan prosesi wisuda, ini memang bukan
salah ibu karena saia memberitahukan tentang kabar baik ini sebulan
sebelum acara wisuda dan saia yakin bahwa wajar kalau ibu sampai lupa
karena rentan jeda waktu yg terlampau lama. Tapi ini berbanding terbalik
ketika salah seorang anak tirinya akan melangsungkan pernikahan, ibu
hanya bersikap seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa.
Dari sini saia bisa mengambil
kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan sama sekali antara “beda ibu tiri
dan ibu kandung” dengan “beda ibu tiri dan ibu asuh”. Ibu asuh tak
ubahnya seperti ibu kandung dan ibu tiri walau kapan-pun tetap saja
menjadi ibu tiri dan sifatnya tetap tak akan berubah walau bagaimanapun
keadaannya, keculai kalau ada niatan dari hatinya sendiri untuk
merubahnya.






0 komentar:
Posting Komentar