Selasa, 12 Juni 2012

Perbedaan Ibu Tiri dan Ibu Asuh

1332159044641944772
Kalau beda ibu tiri ma ibu kandung-kan udah biasa terdengar dan bahkan sudah banyak film-film yg mengambil tema dengan judul tersebut, selalu di ibaratkan kalau ibu tiri itu perumpamaan dari seorang iblis dan ibu kandung ialah perumpamaan dari seorang malaikat. Tapi kalau beda antara ibu tiri dengan ibu asuh pastinya banyak yang belum mengetahuinya dan bahkan belum sempet terpikirkan walau sebatas angan-angan. Untuk itulah, mungkin cerita dari negeri entah-berantah di bawah ini bisa sedkit menjelaskan perbedaan antara kedua publik figur tersebut.
Sebenarnya ini cerita yg cukup menarik bagi saia karena terjadi di sebuah keluarga saia sendiri. Saia sendiri adalah seorang anak yg di lahirkan dari seorang ibu yang sangat baik hati dan manies sekali. Ibu saia adalah istri ketiga dari tiga istri ayah saia. Ayah saia juga seorang ayah yg sangat baik pada semua anak-anaknya dan sangat adil, ini terbukti dari segala apapun yg kami inginkan, pasti akan dituruti, asalkan jgn minta pesawat tempur aja.
Ibu saia adalah orang yg sangat sulit untuk marah, kami menganggu sedemikian rupapun ibu hanya mesam-mesem aja. Ibu saia juga mempunyai seorang anak asuh yang sangat dia sayangi dan saia tahu bahwa sayangnya dia kepada anak asuhnya sama seperti sayangnya dia kepada kami.
Ilustrasi sebuah keluarga bahagia
Tapi setelah saia perhatikan, ternyata ada hal yg paling tidak di sukai oleh ibu saia yaitu ibu sangat tidak senang kepada anak-anak ayah dari istri-istri sebelumnya. Ini terbukti dari wajah ibu ketika anak-anak ayah dari istri sebelumnya datang kerumah ibu saia walau untuk sekedar silaturahmi. Wajah ibu yg semula cantik dan manies, pasti berubah pucet dan kemerah-merahan plus ada tanduk tumbuh di kepalanya.
Saya terkadang heran dengan perubahan ibu saia kalau sudah bertemu anak-anak tirinya, padahal kami saja tidak pernah mempersoalkan status kami yg satu ayah tapi beda ibu, selama ini kami jalani dengan tanpa beban apapun dan bahkan selalu tolong-menolong. Pernah saia mencoba untuk bertanya langsung kepada ibu saia dan dengan tanduk yang masih menempel dikepala, ibu saia menjawab “CEREWET”, tanpa basa-basi saia langsung kabur dan tidak pernah mau lagi bertanya ke ibu tentang persoalan itu lagi.
Sampai saat ini pun ibu masih tetep dengan pendiriannya dan tak pernah mau akrab dengan anak-anak tirinya. Ketika saia pulang sebentar ke kampung halaman untuk mengantar ibu saia dan ayah berangkat ke Arab Saudi karena mereka akan menunaikan ibadah rukun Islam yang kelima (haji), semua anak-anak kandungnya termasuk anak asuhnya diwajibkan untuk pulang. Adek perempuan saia yg kebetulan sekolah di luar kota juga di wajibkan pulang, begitupun juga saia. Tapi ibu langsung berubah risau ketika ayah juga mengharuskan anak-anak dari istri terdahulunya untuk juga ikut berkumpul bersama sebelum keberangkatan mereka.
Masih ada lagi, ketika anak asuh ibu hendak melangsungkan pernikahan, ibu saia dengan sigapnya mempersiapkan segala persiapan dan kebutuhan untuk acara tersebut, bahkan saking sibuknya sampai lupa bahwa anak kesayangannya yg berada diluar pulau untuk bersekolah akan melangsungkan prosesi wisuda, ini memang bukan salah ibu karena saia memberitahukan tentang kabar baik ini sebulan sebelum acara wisuda dan saia yakin bahwa wajar kalau ibu sampai lupa karena rentan jeda waktu yg terlampau lama. Tapi ini berbanding terbalik ketika salah seorang anak tirinya akan melangsungkan pernikahan, ibu hanya bersikap seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa.
Dari sini saia bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan sama sekali antara “beda ibu tiri dan ibu kandung” dengan “beda ibu tiri dan ibu asuh”. Ibu asuh tak ubahnya seperti ibu kandung dan ibu tiri walau kapan-pun tetap saja menjadi ibu tiri dan sifatnya tetap tak akan berubah walau bagaimanapun keadaannya, keculai kalau ada niatan dari hatinya sendiri untuk merubahnya.

0 komentar:

Posting Komentar